Konser C

Oleh: J. Angin

Dimuat di Surabaya Post

11 Juli 2010

Malam menjelang pagi, aku bermimpi lagi. Mimpi seperti biasanya. Aku di panggung pertunjukan. Berkelewang gitar, menghadap mikrofon. Menyanyi laguku. Anehnya, kali ini lagu apkir; kubikin semasa SMA. Lagu tentang cinta. Liriknya saja cuma separuh ingat, namun dalam mimpi masih kuhapal. Hmm… hmm… hmm… begitu ritmenya. Dimulai dari akor C.

Kata orang, impi pagi itu cuma bunga bantal. Tidak bakal jadi nyata. Tetapi selalu kuingatkan diri sendiri: memang tak ada impian yang nyata.
Sesekali nikmat juga bisa tampil, biar cuma dalam khayalan.

Panggung raksasa. Tata cahaya entah berapa ribu watt. Mirip band ternama atau biduan mancanegara. Kapan terakhir kali aku manggung sungguhan? Berapa tahun lalu? Itupun tak ada yang benar-benar mendengarkan. Tepuk tangan mungkin hanya karena kasihan.

Penonton luar biasa banyak. Bersiul gemuruh dan bersorak memekik, walau dari tempatku berdiri wajah-wajah mereka tak pernah bisa kupandang. Gelap sekali di bawah sana. Semua lampu sorot mengarah jitu padaku.
Di kaki panggung hanya tampak sosok-sosok berkerumun, bergerak-gerak. Hitam seperti ribuan bayang-bayang.
Di belakang punggungku tidak ada siapapun. Tajam terdengar bunyi drum dan bas gitar, tetapi tak ada yang memainkan. Mungkin aku sedang tampil minus-one pada sebuah siaran langsung acara televisi yang dipandu artis papan atas?

Nanti dulu.
Jelas hanya lip-sync; kecuali saat itu tanpa sadar aku sedang benar-benar bernyanyi dalam igauanku. Kapan-kapan, jika handycam sudah terbeli, mungkin dua atau tiga tahun lagi, harus kurekam diriku sendiri selagi begini. Berapa panjang pita kaset yang dibutuhkan buat merekam sepanjang malam?

Apa itu yang menggantung di atas? Sebuah spanduk raksasa bergambar diriku berbusana aneka warna, berpose memeluk siku. Wajahku diperbesar menjadi ukuran sekian kali sekian meter; makin tak masuk akal. Aku bukan Aril, Aral, atau Arul. Walau dipulas foundation dan bedak, tetap saja gerombolan lubang bekas jerawat membayang di kedua pipiku. Tidak mungkin membuat gadis-gadis menjerit seperti yang sedang kudengar ini. Gadis-gadis tanpa wajah, tanpa nama, di bawah sana.

Tetapi siapa tahu mereka histeris karena hal lain. Karena suaraku misalnya. Atau mungkin… daya tarik seksualku? Bukankah banyak pemusik yang digandrungi wanita biarpun berwajah tak menarik? Ya, ya, mungkin saja, walau penjelasan yang lebih logis adalah karena ada pengarah acara menyuruh mereka bertingkah begitu.
Jangan terlalu pedulikan. Sejauh ini semuanya sudah lebih dari sebuah karunia.
Kini kuanggap ini sebuah cara Tuhan menghiburku. Atau lebih tepat, caraku menghibur diri sendiri. Sudah berapa lama?

Menabung mati-matian, kubeli segepok kaset kosong. Kurekam tiga komposisi perdanaku, dengan iringan gitar kayu butut, di sebuah compo tua. Kukirim sendiri hasilnya ke semua perusahaan rekaman yang berhasil kulacak dari lembaran kuning.

Aquanus, Musicus, Warnus. Semuanya.

Kubungkus dengan amplop coklat dan kuantar sendiri sampai ke pintu kantor mereka, satu-persatu. Lebih hemat dengan tarif bus dan berjalan kaki, daripada membayar ongkos pos.

“Sudah cantumkan lengkap alamat dan nomor telepon? Nanti kalau memang cocok, akan kami hubungi.” Begitu kata resepsionisnya dengan senyuman. Lalu amplopku diletakkan dalam kardus di lantai. Kardus berisi tumpukan segunung amplop; belum termasuk sebuah kardus penuh lagi di sebelahnya.

Tolong Tuhan beri hambaMu jalan, bisikku dalam hati. Berkali-kali. Setiap hari.
Lewat dua-tiga bulan, belum ada kabar. Kucoba mengontak. Satu-persatu.

“Nanti kalau memang cocok, akan kami hubungi,” jawaban dari seberang sambungan.
Dua bulan. Tiga bulan.

Berarti mungkin memang tidak cocok. Ralat: belum cocok.
Menabung lagi. Menulis tiap malam sebelum tidur. Merekam lagi; salah satunya yang sedang kubawakan ini. Mengirim lagi.

Menunggu lagi. Berdoa lagi. Berkali-kali.
Dua-tiga bulan lagi. Menelepon lagi. Ralat lagi.
Semangatku belum luntur. Karyaku kurang meriah dinyanyikan sendiri. Kucari teman-teman yang mau bergabung. Akhirnya sepakat dengan tiga gubahan bersama.

Tolong Tuhan beri hambaMu jalan, doa kami dalam hati. Setiap hari.
Amplop coklat kami antar sendiri sampai ke pintu mereka, satu demi satu.
Emu, Sono, Universi. Semuanya.

Semangat mulai luntur. Harapan mulai hilang. Kami bukan Padhi, Padha, atau Padhu.
Kami tawarkan materi kami untuk dinyanyikan artis lain. Kami puas walau hanya sebagai pencipta, yang penting karya kami bisa didengar, kataku tergagap di gagang telepon.

“Oke, kami pertimbangkan. Nanti kalau memang cocok, akan kami hubungi.”
Dua-tiga bulan. Dua-tiga tahun.

Aquanus, Musicus, Warnus, Emu, Sono, Universi.
Semuanya.

Sekitar masa itulah, mimpi macam ini mulai muncul.  Aku di panggung hiburan. Berdiri mengiblat mikrofon. Menyanyi untuk penonton yang tidak bisa kulihat. Diiringi band yang tak terlihat.  Sudah berapa lama?
Ikut kompetisi. Turut lomba. Kejar audisi.
Dua-tiga tahun.

Naik semua panggung, walau tak ada uang.
Dua tahun. Tiga tahun.

Dulu, langsung kupaksa membuka mata tiap impian begini berulang. Terasa campur-aduk. Mau menangis sekalian tertawa. Benci menatap langit-langit triplek. Muak terngiang kata andai, kalau saja. Sekarang kunikmati saja sampai akhir, hingga beker berbunyi. Lagipula tidak terlalu sering. Anggap saja sebuah anugerah. Hiburan. Jangan terlalu pedulikan. Sarkastis, mungkin, tetapi sejak kapan hidup itu cuma manis?

Ciptakan lagu dengan irama dan tema yang sedang digemari. Teks sederhana, dengan akhiran u-u-u, atau a-a-a.
Ubah aliran. Ubah penampilan. Unggah di dunia maya.

Tak salah mengekor. Tak rugi menjiplak, asal jangan banyak-banyak.
Sekalian saja kunikmati saat-saat begini. Kulihat penonton bergoyang serentak ayunan tubuh dan petikan gitarku. Mereka bernyanyi bersama seperti gaung, membuntuti semua nada dan kalimat yang keluar dari bibirku. Kata-kata yang harusnya sudah banyak kulupa, tetapi di sini fasih kurapal.
Ini suara yang katanya kurang kuat, kurang karakter.

Apa benar semua penyanyi tenar bervokal mulus?
Promosi di situs jejaring. Produksi sendiri. Bakar CD. Bagi gratis bila perlu!
Ini lagu yang katanya kurang unik, kurang variasi.

Apa betul semua tembang di radio dan TV bagus?

Jika handycam sudah terbeli, buat klip sendiri. Masukkan ke layar kaca. Tayang dini hari jika perlu!
Ini bukan hanya soal takdir. Setelah terbangun nanti, aku tetap akan pergi mandi lalu berangkat cari rejeki. Aku bukan Dani, Dana, atau Danu. Larut malam menulis materi lagi. Dengan gitar kayu renta. Di compo bobrok. Dalam kardus di lantai, masih banyak amplop coklat bertumpuk. Siapa tahu suatu saat nanti, dua-tiga tahun lagi, akan ada Aquifer, Musicu, Warmus, Emo, Sini, atau Multiversi?

Ini tentang mimpi. Tentang caraku menghibur diri sendiri.
Tolong Tuhan beri hambaMu dua-tiga menit lagi. Karena khayalan ini cuma kembang kasur. Karena tak ada fantasi yang nyata.

Ayo, semuanya! Nyanyi sama-sama!

Suaraku berdenyut di pengeras suara ditingkahi teriak penonton membahana. Kutabur pesona pada para hawa di bawah sana. Ini lagu tentang cinta. Dapat kurasa mata-mata mereka jitu menyorotku. Dapat kuraba mereka mengagumiku. Mengimpikanku. Aku tak bisa melihat siapa mereka, tetapi mereka tahu benar siapa aku. Mencintai aku.

Jemari kiri menggenggam erat kunci C. Tangan kanan memegang plectrum, menari di atas senar, sekali lagi.
Ti-dit, ti-dit, ti-dit, ti-dit, ti-dit. Begitu bunyinya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s