Mama Tak Suka Masak

Oleh: J. Angin

Dimuat di Pikiran Rakyat

9 Agustus 2009

Dari kecil, kira-kira sejak sekolah dasar, aku sudah tahu Mama paling tidak suka memasak. Tetapi, karena dulu keluarga kami tak begitu berpunya, tidak ada pilihan lain. Sebab itu juga, begitu jemari bocahku mampu, aku disuruhnya membantu. Aku menurut, walau seusia itu tentu saja sesungguhnya aku lebih suka main. Menemaninya tiap sore di dapur, mandi peluh, aku hafal betul riak mukanya. “Capek.” Itu jawabnya setiap kutanya. Oleh karena itu pula, sedikit demi sedikit aku jadi mengerti. Mama seorang pembohong.

Mulanya, tugasku mengambilkan bumbu, bahan makanan, membilas sayuran, dan mencuci piring serta perkakas sesudah Mama selesai masak, wajan-dandang berkerak tetap Mama yang bersihkan, ketika itu aku belum cukup kuat. Beranjak besar–waktu itu adikku sudah dua orang–aku mulai bisa membantu memotong sayuran, ikan, dan daging.

“Orang yang tidak bisa masak, selalu mengira memasak itu mudah…,” keluhnya suatu hari selagi menumis tak jauh dariku, saat aku menggosok pantat panci di bawah keran–topik serupa akan bertayang-ulang tiap beberapa minggu sekali. “Mereka tak tahu, menyusun menu tiap hari itu memusingkan…Belum lagi kalau ada yang makannya susah… Enggak doyan ini atau itu… Repot!”

Itu yang aku ingat.

Ada hal lain yang hingga kini aku tak pernah benar-benar ingat: sejak kapan aku tak suka makan? Faktanya, anak-anak Mama sejak kecil berbadan kurus. Tetapi, setahuku, hanya aku yang sering merasa mual dan mulas pada saat menjelang, ketika, dan sesudah makan.

Bukan karena masakan Mama tidak enak.

Buktinya Papa bertubuh gemuk. Baru belakangan saja, setelah kesehatannya menurun, dia jadi jauh lebih langsing.

Atau mungkin itu karena Papa lebih sering makan di luar? Hingga sekarang, di rumah, beliau hanya sarapan–itu pun cuma roti oles selai dan secangkir kopi. Bahkan malam sepulang kerja, perutnya selalu sudah terisi. Akhir pekan, dia pasti mengajak kami makan di luar, atau membeli untuk dimakan di rumah, atau memanggil pedagang lewat.

Ya. Kalau diingat lagi, ternyata Papa memang hampir tak pernah makan di rumah.

Ada apa dengan masakan Mama?

**

Ketika masih berstatus pengantin anyar, salah satu pertengkaran dahsyat pertama kami juga tak jauh dari urusan kuliner.

“Dari dulu aku sudah bilang, aku tak ingin kau memasak!” kataku.

“Memangnya berapa penghasilan kita? Kamu pikir cukup buat makan di luar tiap hari?” bantah Sinta.

Aku tahu. Dia benar. Namun, aku tak bilang padanya kalau saat itu penyakit lamaku mulai kambuh lagi.

Perutku anarki tiap kali disuguhi hidangan rumah.

Masalah yang sudah lama terabaikan, sejak aku kuliah di ibu kota, hidup sebagai anak indekos, latihan dari Mama terbukti sangat berguna. Masalah itu tanpa sadar menghilang sejak aku masak sendiri. Juga tak pernah timbul saat aku dijamu di rumah teman, atau oleh keluarga Sinta, sewaktu pacaran–bahkan hingga sekarang. Malahan dalam beberapa tahun terakhir sebelum menikah, pipiku makin tembam.

Aku tak pernah punya antipati terhadap masakan Sinta (walau terus terang saja, masakanku masih jauh lebih baik), hingga saat kami menempati kontrakan kami yang pertama.

Aku tak tahu bagaimana cara menjelaskan hal ini padanya. Ini bukan soal selera! Aku mau bilang, rasanya aku mengidap sejenis alergi terhadap makanan rumah…. Namun, apa Sinta bisa percaya bahwa hal itu bukan sekadar alasan? Bukan karena aku memang lebih suka makanan restoran yang lebih mewah dan lebih gurih? Sumpah, Sinta sayang, hasil karyamu memang jauh dari lezat, tapi sesungguhnya dalam lubuk hatiku, aku senang kau memasak untukku! Tetapi, aku tak punya bukti keterangan dari dokter–atau psikiater–untuk mendukung prognosaku!

Akhirnya aku menyerah. Kupaksakan diri menyantap makanan buatannya. Aku tak seberuntung Papa dulu. Entah apa dia sempat mengamati wajahku yang memelas, dan tanganku yang sedikit gemetar saat mengangkat sendok, menyuap ke mulutku yang rasanya sulit sekali terbuka. Yang jelas, biasanya Sinta sibuk bicara dan bercerita saat kami berdua di meja makan. Mungkin karena itu ia tak pernah menyadari keringat membanjiri tubuhku. Barangkali tak pernah tahu, kenapa porsiku sangat sedikit dan kenapa sesudah piring kosong, aku selalu tergesa ke kamar mandi.

Aku kini kembali terbiasa tidur dengan perut lapar sepanjang malam. Tak masalah buatku, toh lidahku tak pernah lapar, toh saat jeda, aku bisa bersantap di warung tegal belakang kantor. Selahap-lahapnya. Mudah-mudahan Sinta tak pernah tahu, bekal yang tiap pagi dia selipkan dalam tasku selalu kuberikan pada pengemis pinggir jalan. Semoga dia tak tahu, jatah rokok sudah jauh berkurang supaya uang sakuku cukup buat makan siang.

Tetapi, lama-kelamaan orang mulai mengamati perubahanku. Berat badanku mulai turun drastis. Sinta mulai khawatir. Saat dia bertanya, aku selalu menjawab, “Stres di kantor.” Sedikit demi sedikit aku jadi sadar: Aku seorang pembohong.

**

Idulfitri tahun kedua aku menikah, giliran kami bersilaturahmi ke kampung halamanku; pertama kalinya bagi Sinta. Pertama kali bagiku setelah hampir sewindu; resepsi pernikahan kami dulu hanya dilangsungkan di tempat istriku.

Awalnya aku lupa sama sekali pada masalahku, hingga pada hari ke tiga kami di sana, kutemukan diriku menyantap makan pagi dengan penuh semangat.

“Eh, apa ini masakan sisa lebaran?” bisikku.

“Sepertinya bukan…Kemarin kulihat sudah habis semua,” jawab Sinta yang duduk menyebelahi. Papa–seperti biasa–hanya roti, dan sudah beranjak sedari tadi, mengurus kolam ikannya di teras depan. Mama, seperti biasa, tidak sarapan. Di rumah ini tinggal adik bungsuku, masih pulas tidur. Adikku yang seorang lagi, melanjutkan beasiswa S2 di Surabaya, dan seperti aku dulu, tidak pernah bisa pulang.

Aku mengangguk-angguk. Apa aku sudah sembuh? Namun, memang ada yang berbeda dari makanan ini. Aku terus mengunyah. Bukan seperti buatan Mama.

Bukan. Bukan masalah rasa. Seingatku, masakan Mama malah jauh lebih sedap. Apa masakan Mama memang sudah berubah?

Entah di mana Mama pagi itu. Mungkin sudah pergi ke pasar, diantar ojek langganan. Tetapi, sepertinya bila dia pulang nanti, aku tak mungkin sanggup menanyakan hal ini.

Kuhabiskan hidangan hingga bulir nasi terakhir tanpa rasa pahit di perutku; di mulutku. Aku menarik napas panjang. Mungkin semuanya memang sudah tak seperti dulu? Lalu aku berdiri, diikuti Sinta, merapikan meja dan membawa piring-piring kotor ke dapur.

Pada saat membasuh alat makan di bak cuci, pandanganku tertumbuk pada tumpukan kardus di sisi tempat sampah, tak jauh dari ujung kakiku. Aku merunduk sedikit, merapal sebuah tulisan kecil di bagian atas kotak karton yang sudah penyok itu. Huruf-huruf balok dengan tinta merah sedikit pudar: KATERING SEJAHTERA.

Aku jadi luar biasa resah. Aku tak mau pulang ke Jakarta, kembali tersiksa oleh masakan tanpa dosa istriku. Tidak mau terus menyiksa perasaan istriku yang tak bersalah.

“Yang….”

“Hm?”

“Katanya kamu mau tunjukkan rumahmu yang dulu? Kapan? Lusa kita sudah pulang.”

Aku terkesiap. Tak ingat pernah berjanji begitu. “Oh…Hari ini boleh saja,” sahutku.

Hingga kami berangkat, Mama belum kembali.

Kuajak Sinta berkendaraan umum. Rumahku yang lama cukup jauh, tapi aku masih ingat arah jalannya. Dua kali bertukar angkutan, lalu dilanjutkan berjalan kaki, kami berhenti tepat di depan rumah mungil itu. Bentuknya masih sama persis seperti dalam ingatanku. Hanya cat dan pagarnya saja yang berubah bentuk serta warna.

“Hidup memang tidak adil…,” keluhnya suatu hari selagi menggoreng sesuatu tak jauh dariku, saat aku menggosok pantat panci di bawah keran. “Seakan-akan takdir wanita itu di depan kompor–melayani suami, melayani anak….”

Itu bukan Sinta. Itu Mama. Belasan tahun lalu, di dalam rumah itu.

“Kamu kenal pemilik yang sekarang?” Kali ini suara Sinta.

“Hm? Tidak. Tidak kenal.” Aku jawab sekenanya. Pikiranku menggeranyam.

“Jika saja dulu tidak kawin dengan Papamu,” kisahnya di saat lain, “mungkin Mama bisa kuliah, lalu kerja…Punya penghasilan…Dihargai orang….”

“Dulu pasti belum seramai ini, ya?”

“Ya,” aku bergumam. “Dulu di seberang sana masih hutan….”

Sorenya, kutanyakan pada Papa soal makanan di rumah.

“Sudah lama,” jawabnya. “Sejak kau kuliah, tak ada yang bantu Mama masak….”

Hingga dua hari setelahnya, aku tetap tak punya nyali membicarakan hal itu dengan Mama.

**

Di pesawat yang membawa kami kembali ke tanah Jawa, akhirnya aku tak tahan lagi. Kututurkan semua kepada Sinta. Entah kenapa, saat bicara, air mataku meneritik. Padahal, rasanya tak ada yang mengharukan dari pengalaman itu? Aku hanya berkata apa adanya. Apa yang terjadi.

Sambil mengusap pipiku dengan jemarinya yang lembut, Sinta menatapku.

“…Aku belum selesai cerita,” ujarku terbata.

“Tak perlu dilanjutkan,” bisiknya halus. Dia memelukku. “Aku sungguh-sungguh mau memasak untukmu…Bukan hanya karena aku ini istrimu….”

Aku tak menangkap arti ucapannya. “Maksudmu?”

“Aku bukan Mama.” Dia masih tak berpaling dari mataku.

“Maksudnya?” Aku tidak bercanda. Aku betul-betul belum mengerti. Tetapi dia sudah tertawa.

“Intinya: aku suka masak. Apalagi memasak buat kamu, dan nantinya untuk anak-anakku–Aku tahu masakanku sekarang kurang enak, tapi aku masih punya banyak sekali waktu untuk belajar….”

Beberapa saat aku tertegun, lalu mengangguk pelan. “Tapi….” Kata itu meluncur begitu saja dari pita suaraku. Detik itu juga kuhentikan.

“Tapi, apa?”

Terlambat. Sinta terlanjur mendengar.

Aku menggeleng.

“Apa? Ayo, katakan saja!”

Aku menelan ludah. Lalu kuberanikan diri bertanya.

“Tapi….” Lidahku terasa tebal. “Kau…bukan pembohong, kan?”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s