Take This Waltz

US release date: June 29

A failing marriage and an affair are not right or wrong, they are just what they are, just a phase of life? Really?
Beyond the very-bright color palettes, this movie is quite realistic: Not-that-funny humors, rambling-bordering-boring conversations, kind but insensitive husband, nice but unhappy wife. Almost like real life, except real men don’t do ‘word-sex’ or pull rickshaws for morning exercises.

My Rating: 4/10

Advertisements

Ambilkan Bulan

Release date: 28 Juni

Niat mulia para produser dan pembuat film ini patut diacungi dua jempol: ingin mengakrabkan kembali lagu anak-anak, ciptaan almarhum AT Mahmud khususnya, ke telinga anak-anak. Namun mungkin ada satu hal yang perlu direnungkan: lagu anak-anak tahun berapa?
Agak disayangkan, lagu-lagu AT Mahmud yang menjadi tulang punggung film ini beberapa ditampilkan secara tidak tepat. Menyanyi “Anak Gembala” tapi anak gembalanya sedang bermain sepak bola. “Mendaki Gunung” tapi para tokoh ceritanya sedang masuk hutan. Anak gembala menyanyi sambil bermain ukulele, tapi pemeran anak gembalanya tidak bisa memainkan ukulele. Hal yang seharusnya bisa dihindari dengan, mudah saja, menyesuaikan skenario dengan teks lagu; dan mengajari pemeran anak gembala memainkan ukulele.
Tembang-tembang AT Mahmud memang punya kualitas tak lekang waktu, tapi para pendengarnya yang termakan jaman. Sebelum menonton film ini, tentu sudah banyak anak Indonesia yang setidaknya pernah mendengar “Ambilkan Bulan” dan “Amelia”, tapi dalam kehidupan sehari-hari tak pernah menyanyikannya. Setelah menonton, apakah mereka, dan mungkin juga ayah-ibunya, akan lebih sering menyanyikan lagu-lagu tersebut? Rasanya bakal sama saja. Kemarin “Love is You”, bulan-bulan depan entah apa lagi. Lana Nitibaskara pemeran utama film ini dalam kehidupan nyatanya pun adalah seorang penyanyi… jazz.
Di jaman lagu kebangsaan saja sudah diperlakukan seperti INI, entah apakah mengakrabkan adalah suatu tujuan yang bisa dicapai. Mungkin sekadar mengingatkan bahwa di jaman dahulu kala, waktu ayah-ibu masih kecil (atau bahkan belum lahir), dan waktu Tasya Kamila masih kecil, anak-anak Indonesia pernah cukup akrab dengan lagu-lagu AT Mahmud.

My Rating: 5/10

Lewat Djam Malam (1954): Kritik Super Tajam

Apa memang tidak pernah ada tempat buat orang-orang baik, jujur, berani, dan setia, di Indonesia?
Jika anda ingin tahu sebab dan bagaimana caranya Republik ini bisa porak-poranda seperti sekarang, anda cukup mengintip lewat film ini. Skenario Asrul Sani luar biasa gamblang membongkar kedok para mantan tentara negeri yang sesudah ‘purnawira’ beralih profesi jadi pemeras, perampok, pembunuh, preman, cukong, dan germo, dengan tanpa malu mengatasnamakan revolusi dan nasionalisme. Seorang ‘pahlawan perang’ yang masih punya nurani seperti Iskandar hanya jadi manusia bingung yang sulit beradaptasi, sulit mencari pekerjaan. Dan saat ingin menghapus jejak darah di tangannya, akhirnya malah hanya makin menambah panjang daftar dosa.
Oh, menurut anda Indonesia tidak rusak?
Silakan, anda berhak berpendapat. Nikmati saja hidup anda yang ‘damai dan menyenangkan’, berdansa-dansi sepanjang malam seperti teman-teman Norma, tunangan Iskandar.
Atau hidup di alam mimpi, seperti Laila, pelacur yang dimaki ‘miring’. Setengah edan.
Banyak penonton wanita menertawakan sosok Laila. Mungkin menganggap tokoh ini kartunik, menyedihkan, perempuan hina penggoda pria dengan nyanyian melankolis jadulnya; tanpa sadar bahwa hingga detik ini masih terlalu banyak perempuan Indonesia yang lebih suka hidup dalam ‘princess syndrome‘. Berangan hidup di rumah indah, berperabot impor serba mewah. Bercita-cita jadi ibu rumah tangga cantik bergaun anggun, berperhiasan mahal. Hidup menadah tangan pada kaum pria, tanpa peduli dari mana dan bagaimana sang pria memperoleh uangnya. Tanpa peduli jadi istri urutan berapa. Entah istri sah atau seperempat sah.
Tidak banyak bedanya kan dengan Laila? Seorang pelacur setengah gila?
Kelemahan film ini terletak pada endingnya yang sangat sederhana, mungkin bisa dimaafkan sebagai produk jamannya, dan tata cahaya yang cukup kacau pada adegan-adegan indoor hingga anda bisa melihat bayangan boom mic berseliweran. Selebihnya, film ini bagus. Bukan hanya karena nilai sejarahnya. Film ini bagus karena berani memotret secara jujur wajah asli bangsa kita.

My Rating: 10/10

“Apakah tafsiranku salah? Atau Anda, pembaca lain punya tafsiran yang berbeda? Silakan kemukakan. Yang jelas, bagiku membaca Premortem mirip bermain-main dengan teka-teki silang!”

Othervisions

Seorang kawan mengirimiku buku bertajuk Premortem dengan sedikit pesan. ‘Buku ini bikin aku mumet. Aku nggak ngerti apa yang ingin disampaikan penulisnya.’ Tak hanya teman tadi, teman lain pun merasa bingung paska membaca novel mini karangan J Angin yang baru diterbitkan Gramedia tadi.

Iseng, buku ini kubuka-buka begitu sampai di rumah. Awal membaca aku memang mumet. Tapi aku tak membaca secara biasa, runtut dari awal hingga akhir. Kubolak-balik bagian buku secara acak. Toh hanya 130-an halaman. Kulihat plot di buku ini berbaur, maju mundur, suka-suka yang nulis. Tak ada judul di setiap bagian. Tiap bagian mengisahkan tokoh yang berbeda, namun secara umum menjurus ke dua tokoh utama, Bagus dan perempuan yang menikah dengan Abang.

View original post 476 more words

Soegija: Khotbah yang Jatuh di Telinga Tuli

Film berjudul Soegija yang tidak bercerita banyak tentang Soegija.
Tidak perlu berharap sebuah biopik atau epik sejarah. Anda sedang menyaksikan sebuah pagelaran wayang kolosal Ki Garin Nugroho, di mana lakon-lakon ceritanya (yang sebagian besar berakting agak kaku) tidak bertambah tua, anak-anaknya tidak bertambah dewasa dalam kurun waktu sepuluh tahun; para pemusik berjas rapi memainkan lagu dengan atau tanpa penonton di bantaran sawah, dan penyiar radionya berbicara sambil memandang ke arah kamera seperti penyiar televisi.
Melalui 2775 (ya, dua ribu tujuh ratus tujuh puluh lima, termasuk para figuran tentu) wayang-wayangnya, sang dalang berkhotbah banyak tentang Indonesia. Petuah-petuah baik dan bijak yang, walau sudah meminjam mulut seorang Romo Soegija di tahun 1940-1950, di sepanjang riwayat Republik ini, kita para anak negeri yang sekarang hidup di tahun 2012 pada akhirnya tahu, selalu hanya jatuh di telinga-telinga tuli, di lidah-lidah yang berceloteh nakal tapi tidak punya peran atau kemampuan untuk berbuat lebih, seperti Toegimin, dan di kepala-kepala yang manggut-manggut seakan mengerti namun tidak pernah berbuat apa-apa. Ironis.

My Rating: 6/10

The Smashing Pumpkins: ‘Oceania’

Release date: June 19

Tracklist:
01. Quasar
02. Panopticon
03. The Celestials
04. Violet Rays
05. My Love is Winter
06. One Diamond, One Heart
07. Pinwheels
08. Oceania
09. Pale Horse
10. The Chimera
11. Glissandra
12. Inkless
13. Wildflower

My favorite tune: Pinwheels

Corgan is back in the game and evidently tries to reverse his musical evolution. Returning to ear friendly Zwanish pre Machina sounds, with Byrne plays Chamberlin-like drumlines, maybe this album will find wider market than some of his  previous ‘avant-garde’ efforts. As for originality, well, don’t even bother to ask. Just enjoy, pretend that now is the 90’s and Pumpkins’ original members are still in the band.

My Rating: 7/10