Soegija: Khotbah yang Jatuh di Telinga Tuli

Film berjudul Soegija yang tidak bercerita banyak tentang Soegija.
Tidak perlu berharap sebuah biopik atau epik sejarah. Anda sedang menyaksikan sebuah pagelaran wayang kolosal Ki Garin Nugroho, di mana lakon-lakon ceritanya (yang sebagian besar berakting agak kaku) tidak bertambah tua, anak-anaknya tidak bertambah dewasa dalam kurun waktu sepuluh tahun; para pemusik berjas rapi memainkan lagu dengan atau tanpa penonton di bantaran sawah, dan penyiar radionya berbicara sambil memandang ke arah kamera seperti penyiar televisi.
Melalui 2775 (ya, dua ribu tujuh ratus tujuh puluh lima, termasuk para figuran tentu) wayang-wayangnya, sang dalang berkhotbah banyak tentang Indonesia. Petuah-petuah baik dan bijak yang, walau sudah meminjam mulut seorang Romo Soegija di tahun 1940-1950, di sepanjang riwayat Republik ini, kita para anak negeri yang sekarang hidup di tahun 2012 pada akhirnya tahu, selalu hanya jatuh di telinga-telinga tuli, di lidah-lidah yang berceloteh nakal tapi tidak punya peran atau kemampuan untuk berbuat lebih, seperti Toegimin, dan di kepala-kepala yang manggut-manggut seakan mengerti namun tidak pernah berbuat apa-apa. Ironis.

My Rating: 6/10

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s