Jakarta Hati: Jakarta Ketinggalan Hati

Membuat sekuel yang setidaknya bisa mendekati kualitas film aslinya memang sebuah pekerjaan maha sulit. Nagabonar Jadi 2, Arini 2, atau Keluarga Markum misalnya yang pernah tidak berhasil.
Salman Aristo mencoba untuk membangun modal awal yang lebih kuat dengan menghadirkan aktor-aktris yang lebih ternama, lebih senior, dan lebih banyak dari film sebelumnya Jakarta Maghrib. Namun begitu Jakarta Hati dimulai, situasi pengejaran mutu perlahan berbalik 180 derajat. Kali ini anda, yang sebagian mungkin orang Jakarta asli, mungkin malah akan bertanya: siapa orang-orang ini?
Apa iya bila suami atau pria Jakarta berselingkuh, istri dan pacarnya haruslah ternyata seorang peselingkuh, atau sedang belajar berselingkuh, juga? Adakah anggota DPR yang korupsi karena istrinya sakit keras? Settingnya seperti Jakarta, tapi entah kenapa mereka bertingkah, berbicara, bersumpah-serapah cukup sering, dan bertengkar cukup banyak, seperti di pentas drama? Dan, kita tahu persis, tidak punya anak itu tentu bukan alasan untuk mengkhianati pasangan kan?
Dalam kenyataan, sudah punya banyak anak pun banyak pasangan Jakarta–dan di luar Jakarta–kelas menengah (yang ng*he maupun yang tidak ng*he) atau kelas bawahnya-bawah dan jet-set sekalipun, yang tetap giat berselingkuh. Faktanya, dengan anak-istri sehat sentosa, pejabat dan politikus kita tetap giat berkorupsi. Mencari ojek dan taksi di pagi hari tidak sesulit itu. Dan pemadaman listrik juga tidak sering-sering amat.
Pada saat skenario terlihat stagnan dalam berbagai kiasan, parodi, atau renungan setengah matang, aktor-aktris ‘besar’ yang tadi diharapkan dapat lebih menghidupkan cerita malah tersandung pula dalam akting yang kurang sempurna. Asmirandah, Andhika Pratama, Shahnaz Haque, dengan berbagai mimik yang diinginkan sutradara dan rentetan dialog yang dimasukkan penulis, tidak berhasil membuat karakter-karakter yang mereka bawakan jadi cukup meyakinkan. Tidak hanya kurang berhasil sebagai ‘sketsa’ warga Jakarta ‘asli’, tapi akhirnya juga jadi tidak cukup meyakinkan sebagai manusia-manusia nyata non lakon sinetron.
Itukah yang ingin digambarkan oleh film ini sebagai ‘jantung’ Ibukota? Lantas di mana ‘hati’nya? Yah, mungkin saja, ‘hati’ itu masih tertinggal di film jilid pertama.

My Rating: 4/10

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s