What They Don’t Talk About When They Talk About Love

TalkAboutLove2013 Rotterdam International Film Festival – Winner Netpac Award.

Film dibuka di sebuah Sekolah Luar Biasa, dan perhatikan mana yang penampilannya paling tidak mirip orang difabel, itulah tokoh-tokoh utama cerita ini.
Apa yang tidak dibicarakan saat orang bicara cinta? Untuk memulai diskusi, anda diajak melihat dari sudut pandang tuna netra, tuna rungu, dan tuna wicara. Apa yang tidak mereka bicarakan saat mereka bicara cinta? Setelah hampir tiga perempat durasi, narasi film bercabang. Cabang cerita ini seperti berlawanan makna, tapi sebenarnya film masih tetap konsisten pada tema yang sama. Hanya saja kali ini anda menilik dari sisi sebaliknya: dari persepsi orang “normal”, yang bisa melihat, mendengar, dan bicara. Apa yang tidak mereka bicarakan? Apa bedanya? Adakah perbedaannya?
Apa sih yang dibicarakan orang difabel dan orang “normal” saat mereka bicara cinta? Pacaran? Rayuan gombal? Pegang tangan? Bersandar di bahu kekasih? Ciuman? Seks? Seks yang kering, atau yang basah? Itu semua tentu sudah sering dibicarakan, termasuk oleh dan dalam film ini. Lalu apa yang tidak dibicarakan?
Karena setelah itu narasi cerita kembali ke SLB, nampaknya film ingin melempar sebuah teori: mungkin, dengan segala keterbatasan mereka dalam berkomunikasi, orang difabel justru bisa lebih bebas (seperti awal lirik lagu Burung Camar yang jadi salah satu leitmotif film ini) bicara tentang cinta saat mereka bicara tentang cinta, karena tidak terpenjara oleh apa yang mereka lihat, apa yang mereka dengar, dan apa yang mereka katakan. Benarkah begitu? Bukankah sama saja, karena orang buta dan bisu juga bisa bicara apa saja, dengan cara mereka sendiri–huruf Braille dan isyarat tangan, tuna rungu tetap bisa berpenampilan punker, seperti yang ditunjukkan di film ini, namun juga tetap tidak bisa bebas bicara semuanya, dan semaunya, tentang cinta, seperti anda yang “normal”? Jadi apa benar ada kebebasan yang seperti Burung Camar dalam cinta? Bukankah dalam lagu tersebut burung camar tadi akhirnya juga “jatuh di dekat kaki”?
What They Don’t tidak memaksa anda untuk menyimpulkan. Anda bisa menjawab apa saja, atau memilih tidak menjawab. Sebuah retorika tentang cinta? Mungkin. Mungkin, cinta dari segala sisi memang sudah habis dibicarakan. Tapi bisa mengajak anda berdiskusi dan membicarakan cinta sekali lagi saja adalah bukti bahwa filmmaker Mouly Surya telah berhasil menuntaskan misinya.

My Rating: 7/10

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s