Konser C

Oleh: J. Angin

Dimuat di Surabaya Post

11 Juli 2010

Malam menjelang pagi, aku bermimpi lagi. Mimpi seperti biasanya. Aku di panggung pertunjukan. Berkelewang gitar, menghadap mikrofon. Menyanyi laguku. Anehnya, kali ini lagu apkir; kubikin semasa SMA. Lagu tentang cinta. Liriknya saja cuma separuh ingat, namun dalam mimpi masih kuhapal. Hmm… hmm… hmm… begitu ritmenya. Dimulai dari akor C.

Kata orang, impi pagi itu cuma bunga bantal. Tidak bakal jadi nyata. Tetapi selalu kuingatkan diri sendiri: memang tak ada impian yang nyata.
Sesekali nikmat juga bisa tampil, biar cuma dalam khayalan.

Panggung raksasa. Tata cahaya entah berapa ribu watt. Mirip band ternama atau biduan mancanegara. Kapan terakhir kali aku manggung sungguhan? Berapa tahun lalu? Itupun tak ada yang benar-benar mendengarkan. Tepuk tangan mungkin hanya karena kasihan.

Penonton luar biasa banyak. Bersiul gemuruh dan bersorak memekik, walau dari tempatku berdiri wajah-wajah mereka tak pernah bisa kupandang. Gelap sekali di bawah sana. Semua lampu sorot mengarah jitu padaku.
Di kaki panggung hanya tampak sosok-sosok berkerumun, bergerak-gerak. Hitam seperti ribuan bayang-bayang.
Di belakang punggungku tidak ada siapapun. Tajam terdengar bunyi drum dan bas gitar, tetapi tak ada yang memainkan. Mungkin aku sedang tampil minus-one pada sebuah siaran langsung acara televisi yang dipandu artis papan atas?

Nanti dulu.
Jelas hanya lip-sync; kecuali saat itu tanpa sadar aku sedang benar-benar bernyanyi dalam igauanku. Kapan-kapan, jika handycam sudah terbeli, mungkin dua atau tiga tahun lagi, harus kurekam diriku sendiri selagi begini. Berapa panjang pita kaset yang dibutuhkan buat merekam sepanjang malam?

Apa itu yang menggantung di atas? Sebuah spanduk raksasa bergambar diriku berbusana aneka warna, berpose memeluk siku. Wajahku diperbesar menjadi ukuran sekian kali sekian meter; makin tak masuk akal. Aku bukan Aril, Aral, atau Arul. Walau dipulas foundation dan bedak, tetap saja gerombolan lubang bekas jerawat membayang di kedua pipiku. Tidak mungkin membuat gadis-gadis menjerit seperti yang sedang kudengar ini. Gadis-gadis tanpa wajah, tanpa nama, di bawah sana.

Tetapi siapa tahu mereka histeris karena hal lain. Karena suaraku misalnya. Atau mungkin… daya tarik seksualku? Bukankah banyak pemusik yang digandrungi wanita biarpun berwajah tak menarik? Ya, ya, mungkin saja, walau penjelasan yang lebih logis adalah karena ada pengarah acara menyuruh mereka bertingkah begitu.
Jangan terlalu pedulikan. Sejauh ini semuanya sudah lebih dari sebuah karunia.
Kini kuanggap ini sebuah cara Tuhan menghiburku. Atau lebih tepat, caraku menghibur diri sendiri. Sudah berapa lama?

Menabung mati-matian, kubeli segepok kaset kosong. Kurekam tiga komposisi perdanaku, dengan iringan gitar kayu butut, di sebuah compo tua. Kukirim sendiri hasilnya ke semua perusahaan rekaman yang berhasil kulacak dari lembaran kuning.

Aquanus, Musicus, Warnus. Semuanya.

Kubungkus dengan amplop coklat dan kuantar sendiri sampai ke pintu kantor mereka, satu-persatu. Lebih hemat dengan tarif bus dan berjalan kaki, daripada membayar ongkos pos.

“Sudah cantumkan lengkap alamat dan nomor telepon? Nanti kalau memang cocok, akan kami hubungi.” Begitu kata resepsionisnya dengan senyuman. Lalu amplopku diletakkan dalam kardus di lantai. Kardus berisi tumpukan segunung amplop; belum termasuk sebuah kardus penuh lagi di sebelahnya.

Tolong Tuhan beri hambaMu jalan, bisikku dalam hati. Berkali-kali. Setiap hari.
Lewat dua-tiga bulan, belum ada kabar. Kucoba mengontak. Satu-persatu.

“Nanti kalau memang cocok, akan kami hubungi,” jawaban dari seberang sambungan.
Dua bulan. Tiga bulan.

Berarti mungkin memang tidak cocok. Ralat: belum cocok.
Menabung lagi. Menulis tiap malam sebelum tidur. Merekam lagi; salah satunya yang sedang kubawakan ini. Mengirim lagi.

Menunggu lagi. Berdoa lagi. Berkali-kali.
Dua-tiga bulan lagi. Menelepon lagi. Ralat lagi.
Semangatku belum luntur. Karyaku kurang meriah dinyanyikan sendiri. Kucari teman-teman yang mau bergabung. Akhirnya sepakat dengan tiga gubahan bersama.

Tolong Tuhan beri hambaMu jalan, doa kami dalam hati. Setiap hari.
Amplop coklat kami antar sendiri sampai ke pintu mereka, satu demi satu.
Emu, Sono, Universi. Semuanya.

Semangat mulai luntur. Harapan mulai hilang. Kami bukan Padhi, Padha, atau Padhu.
Kami tawarkan materi kami untuk dinyanyikan artis lain. Kami puas walau hanya sebagai pencipta, yang penting karya kami bisa didengar, kataku tergagap di gagang telepon.

“Oke, kami pertimbangkan. Nanti kalau memang cocok, akan kami hubungi.”
Dua-tiga bulan. Dua-tiga tahun.

Aquanus, Musicus, Warnus, Emu, Sono, Universi.
Semuanya.

Sekitar masa itulah, mimpi macam ini mulai muncul.  Aku di panggung hiburan. Berdiri mengiblat mikrofon. Menyanyi untuk penonton yang tidak bisa kulihat. Diiringi band yang tak terlihat.  Sudah berapa lama?
Ikut kompetisi. Turut lomba. Kejar audisi.
Dua-tiga tahun.

Naik semua panggung, walau tak ada uang.
Dua tahun. Tiga tahun.

Dulu, langsung kupaksa membuka mata tiap impian begini berulang. Terasa campur-aduk. Mau menangis sekalian tertawa. Benci menatap langit-langit triplek. Muak terngiang kata andai, kalau saja. Sekarang kunikmati saja sampai akhir, hingga beker berbunyi. Lagipula tidak terlalu sering. Anggap saja sebuah anugerah. Hiburan. Jangan terlalu pedulikan. Sarkastis, mungkin, tetapi sejak kapan hidup itu cuma manis?

Ciptakan lagu dengan irama dan tema yang sedang digemari. Teks sederhana, dengan akhiran u-u-u, atau a-a-a.
Ubah aliran. Ubah penampilan. Unggah di dunia maya.

Tak salah mengekor. Tak rugi menjiplak, asal jangan banyak-banyak.
Sekalian saja kunikmati saat-saat begini. Kulihat penonton bergoyang serentak ayunan tubuh dan petikan gitarku. Mereka bernyanyi bersama seperti gaung, membuntuti semua nada dan kalimat yang keluar dari bibirku. Kata-kata yang harusnya sudah banyak kulupa, tetapi di sini fasih kurapal.
Ini suara yang katanya kurang kuat, kurang karakter.

Apa benar semua penyanyi tenar bervokal mulus?
Promosi di situs jejaring. Produksi sendiri. Bakar CD. Bagi gratis bila perlu!
Ini lagu yang katanya kurang unik, kurang variasi.

Apa betul semua tembang di radio dan TV bagus?

Jika handycam sudah terbeli, buat klip sendiri. Masukkan ke layar kaca. Tayang dini hari jika perlu!
Ini bukan hanya soal takdir. Setelah terbangun nanti, aku tetap akan pergi mandi lalu berangkat cari rejeki. Aku bukan Dani, Dana, atau Danu. Larut malam menulis materi lagi. Dengan gitar kayu renta. Di compo bobrok. Dalam kardus di lantai, masih banyak amplop coklat bertumpuk. Siapa tahu suatu saat nanti, dua-tiga tahun lagi, akan ada Aquifer, Musicu, Warmus, Emo, Sini, atau Multiversi?

Ini tentang mimpi. Tentang caraku menghibur diri sendiri.
Tolong Tuhan beri hambaMu dua-tiga menit lagi. Karena khayalan ini cuma kembang kasur. Karena tak ada fantasi yang nyata.

Ayo, semuanya! Nyanyi sama-sama!

Suaraku berdenyut di pengeras suara ditingkahi teriak penonton membahana. Kutabur pesona pada para hawa di bawah sana. Ini lagu tentang cinta. Dapat kurasa mata-mata mereka jitu menyorotku. Dapat kuraba mereka mengagumiku. Mengimpikanku. Aku tak bisa melihat siapa mereka, tetapi mereka tahu benar siapa aku. Mencintai aku.

Jemari kiri menggenggam erat kunci C. Tangan kanan memegang plectrum, menari di atas senar, sekali lagi.
Ti-dit, ti-dit, ti-dit, ti-dit, ti-dit. Begitu bunyinya.

Mama Tak Suka Masak

Oleh: J. Angin

Dimuat di Pikiran Rakyat

9 Agustus 2009

Dari kecil, kira-kira sejak sekolah dasar, aku sudah tahu Mama paling tidak suka memasak. Tetapi, karena dulu keluarga kami tak begitu berpunya, tidak ada pilihan lain. Sebab itu juga, begitu jemari bocahku mampu, aku disuruhnya membantu. Aku menurut, walau seusia itu tentu saja sesungguhnya aku lebih suka main. Menemaninya tiap sore di dapur, mandi peluh, aku hafal betul riak mukanya. “Capek.” Itu jawabnya setiap kutanya. Oleh karena itu pula, sedikit demi sedikit aku jadi mengerti. Mama seorang pembohong.

Mulanya, tugasku mengambilkan bumbu, bahan makanan, membilas sayuran, dan mencuci piring serta perkakas sesudah Mama selesai masak, wajan-dandang berkerak tetap Mama yang bersihkan, ketika itu aku belum cukup kuat. Beranjak besar–waktu itu adikku sudah dua orang–aku mulai bisa membantu memotong sayuran, ikan, dan daging.

“Orang yang tidak bisa masak, selalu mengira memasak itu mudah…,” keluhnya suatu hari selagi menumis tak jauh dariku, saat aku menggosok pantat panci di bawah keran–topik serupa akan bertayang-ulang tiap beberapa minggu sekali. “Mereka tak tahu, menyusun menu tiap hari itu memusingkan…Belum lagi kalau ada yang makannya susah… Enggak doyan ini atau itu… Repot!”

Itu yang aku ingat.

Ada hal lain yang hingga kini aku tak pernah benar-benar ingat: sejak kapan aku tak suka makan? Faktanya, anak-anak Mama sejak kecil berbadan kurus. Tetapi, setahuku, hanya aku yang sering merasa mual dan mulas pada saat menjelang, ketika, dan sesudah makan.

Bukan karena masakan Mama tidak enak.

Buktinya Papa bertubuh gemuk. Baru belakangan saja, setelah kesehatannya menurun, dia jadi jauh lebih langsing.

Atau mungkin itu karena Papa lebih sering makan di luar? Hingga sekarang, di rumah, beliau hanya sarapan–itu pun cuma roti oles selai dan secangkir kopi. Bahkan malam sepulang kerja, perutnya selalu sudah terisi. Akhir pekan, dia pasti mengajak kami makan di luar, atau membeli untuk dimakan di rumah, atau memanggil pedagang lewat.

Ya. Kalau diingat lagi, ternyata Papa memang hampir tak pernah makan di rumah.

Ada apa dengan masakan Mama?

**

Ketika masih berstatus pengantin anyar, salah satu pertengkaran dahsyat pertama kami juga tak jauh dari urusan kuliner.

“Dari dulu aku sudah bilang, aku tak ingin kau memasak!” kataku.

“Memangnya berapa penghasilan kita? Kamu pikir cukup buat makan di luar tiap hari?” bantah Sinta.

Aku tahu. Dia benar. Namun, aku tak bilang padanya kalau saat itu penyakit lamaku mulai kambuh lagi.

Perutku anarki tiap kali disuguhi hidangan rumah.

Masalah yang sudah lama terabaikan, sejak aku kuliah di ibu kota, hidup sebagai anak indekos, latihan dari Mama terbukti sangat berguna. Masalah itu tanpa sadar menghilang sejak aku masak sendiri. Juga tak pernah timbul saat aku dijamu di rumah teman, atau oleh keluarga Sinta, sewaktu pacaran–bahkan hingga sekarang. Malahan dalam beberapa tahun terakhir sebelum menikah, pipiku makin tembam.

Aku tak pernah punya antipati terhadap masakan Sinta (walau terus terang saja, masakanku masih jauh lebih baik), hingga saat kami menempati kontrakan kami yang pertama.

Aku tak tahu bagaimana cara menjelaskan hal ini padanya. Ini bukan soal selera! Aku mau bilang, rasanya aku mengidap sejenis alergi terhadap makanan rumah…. Namun, apa Sinta bisa percaya bahwa hal itu bukan sekadar alasan? Bukan karena aku memang lebih suka makanan restoran yang lebih mewah dan lebih gurih? Sumpah, Sinta sayang, hasil karyamu memang jauh dari lezat, tapi sesungguhnya dalam lubuk hatiku, aku senang kau memasak untukku! Tetapi, aku tak punya bukti keterangan dari dokter–atau psikiater–untuk mendukung prognosaku!

Akhirnya aku menyerah. Kupaksakan diri menyantap makanan buatannya. Aku tak seberuntung Papa dulu. Entah apa dia sempat mengamati wajahku yang memelas, dan tanganku yang sedikit gemetar saat mengangkat sendok, menyuap ke mulutku yang rasanya sulit sekali terbuka. Yang jelas, biasanya Sinta sibuk bicara dan bercerita saat kami berdua di meja makan. Mungkin karena itu ia tak pernah menyadari keringat membanjiri tubuhku. Barangkali tak pernah tahu, kenapa porsiku sangat sedikit dan kenapa sesudah piring kosong, aku selalu tergesa ke kamar mandi.

Aku kini kembali terbiasa tidur dengan perut lapar sepanjang malam. Tak masalah buatku, toh lidahku tak pernah lapar, toh saat jeda, aku bisa bersantap di warung tegal belakang kantor. Selahap-lahapnya. Mudah-mudahan Sinta tak pernah tahu, bekal yang tiap pagi dia selipkan dalam tasku selalu kuberikan pada pengemis pinggir jalan. Semoga dia tak tahu, jatah rokok sudah jauh berkurang supaya uang sakuku cukup buat makan siang.

Tetapi, lama-kelamaan orang mulai mengamati perubahanku. Berat badanku mulai turun drastis. Sinta mulai khawatir. Saat dia bertanya, aku selalu menjawab, “Stres di kantor.” Sedikit demi sedikit aku jadi sadar: Aku seorang pembohong.

**

Idulfitri tahun kedua aku menikah, giliran kami bersilaturahmi ke kampung halamanku; pertama kalinya bagi Sinta. Pertama kali bagiku setelah hampir sewindu; resepsi pernikahan kami dulu hanya dilangsungkan di tempat istriku.

Awalnya aku lupa sama sekali pada masalahku, hingga pada hari ke tiga kami di sana, kutemukan diriku menyantap makan pagi dengan penuh semangat.

“Eh, apa ini masakan sisa lebaran?” bisikku.

“Sepertinya bukan…Kemarin kulihat sudah habis semua,” jawab Sinta yang duduk menyebelahi. Papa–seperti biasa–hanya roti, dan sudah beranjak sedari tadi, mengurus kolam ikannya di teras depan. Mama, seperti biasa, tidak sarapan. Di rumah ini tinggal adik bungsuku, masih pulas tidur. Adikku yang seorang lagi, melanjutkan beasiswa S2 di Surabaya, dan seperti aku dulu, tidak pernah bisa pulang.

Aku mengangguk-angguk. Apa aku sudah sembuh? Namun, memang ada yang berbeda dari makanan ini. Aku terus mengunyah. Bukan seperti buatan Mama.

Bukan. Bukan masalah rasa. Seingatku, masakan Mama malah jauh lebih sedap. Apa masakan Mama memang sudah berubah?

Entah di mana Mama pagi itu. Mungkin sudah pergi ke pasar, diantar ojek langganan. Tetapi, sepertinya bila dia pulang nanti, aku tak mungkin sanggup menanyakan hal ini.

Kuhabiskan hidangan hingga bulir nasi terakhir tanpa rasa pahit di perutku; di mulutku. Aku menarik napas panjang. Mungkin semuanya memang sudah tak seperti dulu? Lalu aku berdiri, diikuti Sinta, merapikan meja dan membawa piring-piring kotor ke dapur.

Pada saat membasuh alat makan di bak cuci, pandanganku tertumbuk pada tumpukan kardus di sisi tempat sampah, tak jauh dari ujung kakiku. Aku merunduk sedikit, merapal sebuah tulisan kecil di bagian atas kotak karton yang sudah penyok itu. Huruf-huruf balok dengan tinta merah sedikit pudar: KATERING SEJAHTERA.

Aku jadi luar biasa resah. Aku tak mau pulang ke Jakarta, kembali tersiksa oleh masakan tanpa dosa istriku. Tidak mau terus menyiksa perasaan istriku yang tak bersalah.

“Yang….”

“Hm?”

“Katanya kamu mau tunjukkan rumahmu yang dulu? Kapan? Lusa kita sudah pulang.”

Aku terkesiap. Tak ingat pernah berjanji begitu. “Oh…Hari ini boleh saja,” sahutku.

Hingga kami berangkat, Mama belum kembali.

Kuajak Sinta berkendaraan umum. Rumahku yang lama cukup jauh, tapi aku masih ingat arah jalannya. Dua kali bertukar angkutan, lalu dilanjutkan berjalan kaki, kami berhenti tepat di depan rumah mungil itu. Bentuknya masih sama persis seperti dalam ingatanku. Hanya cat dan pagarnya saja yang berubah bentuk serta warna.

“Hidup memang tidak adil…,” keluhnya suatu hari selagi menggoreng sesuatu tak jauh dariku, saat aku menggosok pantat panci di bawah keran. “Seakan-akan takdir wanita itu di depan kompor–melayani suami, melayani anak….”

Itu bukan Sinta. Itu Mama. Belasan tahun lalu, di dalam rumah itu.

“Kamu kenal pemilik yang sekarang?” Kali ini suara Sinta.

“Hm? Tidak. Tidak kenal.” Aku jawab sekenanya. Pikiranku menggeranyam.

“Jika saja dulu tidak kawin dengan Papamu,” kisahnya di saat lain, “mungkin Mama bisa kuliah, lalu kerja…Punya penghasilan…Dihargai orang….”

“Dulu pasti belum seramai ini, ya?”

“Ya,” aku bergumam. “Dulu di seberang sana masih hutan….”

Sorenya, kutanyakan pada Papa soal makanan di rumah.

“Sudah lama,” jawabnya. “Sejak kau kuliah, tak ada yang bantu Mama masak….”

Hingga dua hari setelahnya, aku tetap tak punya nyali membicarakan hal itu dengan Mama.

**

Di pesawat yang membawa kami kembali ke tanah Jawa, akhirnya aku tak tahan lagi. Kututurkan semua kepada Sinta. Entah kenapa, saat bicara, air mataku meneritik. Padahal, rasanya tak ada yang mengharukan dari pengalaman itu? Aku hanya berkata apa adanya. Apa yang terjadi.

Sambil mengusap pipiku dengan jemarinya yang lembut, Sinta menatapku.

“…Aku belum selesai cerita,” ujarku terbata.

“Tak perlu dilanjutkan,” bisiknya halus. Dia memelukku. “Aku sungguh-sungguh mau memasak untukmu…Bukan hanya karena aku ini istrimu….”

Aku tak menangkap arti ucapannya. “Maksudmu?”

“Aku bukan Mama.” Dia masih tak berpaling dari mataku.

“Maksudnya?” Aku tidak bercanda. Aku betul-betul belum mengerti. Tetapi dia sudah tertawa.

“Intinya: aku suka masak. Apalagi memasak buat kamu, dan nantinya untuk anak-anakku–Aku tahu masakanku sekarang kurang enak, tapi aku masih punya banyak sekali waktu untuk belajar….”

Beberapa saat aku tertegun, lalu mengangguk pelan. “Tapi….” Kata itu meluncur begitu saja dari pita suaraku. Detik itu juga kuhentikan.

“Tapi, apa?”

Terlambat. Sinta terlanjur mendengar.

Aku menggeleng.

“Apa? Ayo, katakan saja!”

Aku menelan ludah. Lalu kuberanikan diri bertanya.

“Tapi….” Lidahku terasa tebal. “Kau…bukan pembohong, kan?”

Infini

Oleh: J. Angin

Dimuat di Kompas

19 April 2009

Inilah Senin pertamaku benar-benar hidup sebagai pensiunan. Memang resmi bulan lalu aku gantung dasi, tetapi biasanya masih ada telepon berulang kali menanyakan ini-itu dari para mantan bawahan, atasan, dan penggantiku. Hari ini mereka sudah berhenti menghubungi. Ganjil rasanya; empat puluh tahun lebih, awal minggu selalu jadi hari tersibuk. Kukira memang sekarang masanya semua sungguh berlalu. Diam berebahan di pembaringan. Sendirian.

Di luar sudah gelap. Belum saatnya tidur, aku tidak mengantuk. Bangkit lagi sedikit limbung, entah berapa lama terpekur; bingung hendak melakukan apa. Akhirnya aku turun dari kasur, memakai sandal jepit, dan berjalan ke jendela. Pemutar audioku memainkan pita lagu lama, sekarang ini Smoke Gets In Your Eyes versi The Platters. Sudah mengayun suaranya, maklum kaset tua. Hampir selesai. Akan segera berganti ke tembang berikutnya.

”Gantilah dengan cakram padat, Yah. Jauh lebih jernih.” Anak pertamaku pernah komentar.

”Ini kubeli semasa muda dulu, Nak. Ada kenangan di dalamnya,” jawabku.

”Nanti akan kubelikan untuk Ayah. Sekaligus dengan pemutar digitalnya,” katanya sambil tertawa waktu itu, bertahun lalu.

Aku tersenyum. Ingin meneleponnya, tetapi entah nanti malah mengganggu atau tidak. Lagi pula jam begini setahuku biasanya dia belum pulang. Maklum, awal minggu.

”Ayah kok baru pulang?” tanyanya waktu seusia dengan cucuku—putranya sekarang.

”Tugas menumpuk, Nak,” jawabku waktu itu. Aku lupa saat itu tersenyum atau tidak. ”Kamu sendiri kenapa belum tidur?”

Kalau kucoba telepon ke rumah, yang akan menerima mungkin menantuku. Bisa saja bertanya apa kabar, apa kabar anaknya; tetapi sungguh aku bukan orang yang senang basa-basi. Selain menyapa, aku tak tahu apa lagi yang ingin kubicarakan dengan mereka. Dengan anakku? Apa yang hendak kubicarakan? Cerita tentang hari ini? Tentang musik yang sedang kudengar dan kenapa aku jadi ingat dia? Tiba-tiba saja aku jadi terdengar seperti ibunya. Maka, kubatalkan niatku.

”Coba cari kegiatan apalah begitu?” Itu komentar istriku dulu tiap melihat aku begini. ”Jangan diam-diam saja….”

Lalu, aku berlalu ke rak buku. Seperti sekarang.

Kini sudah tak ada yang baru di sana. Kubuang waktu dengan membacai judul di deretan punggung-punggungnya, baru sadar ternyata sudah lama sekali aku tidak punya bacaan. Surat kabar kian hari kian tipis, tidak ada lagi yang menarik untuk disimak—itu juga aku sudah tak berlangganan lagi; mulai bulan ini. Bisa saja kutarik, kubuka, dan kupaksa ulang membaca salah satunya, tetapi aku tak tega. Tak tega kepada diriku sendiri. Akhirnya kurelakan. Lemari ini sudah tak bisa jadi penyelamat lagi.

Kulirik pesawat televisi yang teronggok diam di muka ranjang. Sejak benda itu dibeli, aku tidak pernah menyentuhnya.

”Apa saja kegiatanmu sepanjang hari? Nonton?” Sering kusindir ”mantan” istriku tiap kutemukan dia duduk terpaku di depan sini saat aku pulang kantor. Aku masih ingat betul, ia tak pernah menjawab. Beberapa kali istriku bahkan tidak menoleh seakan tak mendengar suaraku sama sekali. Masih ingat waktu-waktu seperti itu aku sangat marah. Bisa saja kutarik dan kusakiti dia. Tetapi, aku tak pernah sampai hati. Pada tahun-tahun terakhir, benda inilah yang sudah menyelingkuhi dia. Mungkin harusnya kubesituakan saja si satu mata tersebut, biar tak teringat lagi hari-hari dulu. Tetapi, entah kenapa belum juga aku lakukan. Di lemari pakaian, baju-baju lawas istriku sudah bersih terdonasikan pada fakir miskin, tetapi benda satu ini masih saja kubiarkan. Hingga hari ini masih kutatap layar gelas itu dengan pandangan benci. Aku bersumpah tidak akan menyentuhnya. Tidak juga malam ini, seberapa pun sepi.

”Ke mana televisinya, Yah?” Mungkin aku takut anakku yang kedua akan bertanya seperti itu saat berkunjung lebaran tahun depan.

Semasa kecilnya dulu, ia paling senang menonton di sini.

”Kamu sudah kerjakan PR belum?” Sering kutegur dia tiap kutemukan dirinya saat aku pulang kerja.

”Sudah dong, Yah,” jawabnya santai. Kadang tanpa menoleh sama sekali.

Mungkin karena itu juga foto pernikahanku masih kutinggalkan tergantung di dinding kamar ini. Kutatap gambarnya yang bisu. Di situ kami terlihat sangat muda. Sangat bahagia. Puluhan tahun lalu.

Sekali lagi aku tersenyum sendiri. Kali ini timbul keinginan menelepon anak bungsuku. Tetapi, untuk kedua kali kuingatkan diriku: Apa yang hendak dibicarakan? Belum lagi jika ternyata pembantu mereka atau menantuku yang nanti mengangkat; biaya telepon tidak murah. Kuingatkan diriku, mulai bulan ini harus ekstra hemat; mulai bulan ini aku bergantung hidup hanya pada simpanan yang jumlahnya tak seberapa.

Kupandang meja tulis yang ada di samping pintu, kukerling lacinya yang teratas; di mana buku tabunganku tersimpan rapi. Sudah hampir setahun tak kukeluarkan dari sana. Terus terang saja: aku takut melihat angkanya.

Puluhan tahun berkarier mencari keuntungan perusahaan, setahun terakhir aku baru ingat tak pernah mengkalkulasi keuangan sendiri. Ini bukan lagi permainan yang sama dengan yang kumasuki dahulu.

Saat mulai berkarier, tak pernah kubayangkan harga-harga akan setinggi sekarang. Sewaktu anak-anak masih kecil, harga obat dan ongkos rumah sakit rasanya selalu bisa kutanggung. Jika uang tak cukup, aku masih dapat berutang pada kantor. Tetapi, entah kenapa, saat aku menua dan istriku sakit-sakitan, semua jadi tak terjangkau lagi. Tak pernah kuduga satu dekade lalu program pensiun tiba-tiba lenyap. Andai aku masuk sepuluh tahun lebih awal, mungkin semua akan berbeda. Satu hal yang tak bisa kubanggakan, aku pensiun dengan sisa utang biaya pengobatan istriku akhirnya dihapus. Ingin kujual rumah ini untuk melunasi, tetapi atasanku mencegah. Ia tahu aku tak punya apa-apa lagi. Hanya itu penghargaan terakhir yang bisa diberikan perusahaan atas pengabdianku.

Setahun terakhir, baru kupikirkan: siapa yang akan menanggung sisa hidupku nanti?

Hingga hari ini, aku belum pernah minta bantuan anak-anak. Semoga tidak akan perlu. Tetapi, bagaimana andai aku seperti ibu mereka dulu? Mengobati sesuatu yang ternyata tak bisa disembuhkan?

Aku tak pernah menyalahkan ibu mereka. Tak ada yang mau sakit. Aku juga tak pernah menyalahkan Tuhan. Manusia sakit bukan karena Tuhan.

Namun, apa yang harus kulakukan bila saja suatu hari nanti nasibku serupa? Siapa yang harus berutang untuk semua biayanya? Apakah anak-anakku juga harus merelakan simpanan mereka habis untuk melawan yang ternyata tak bisa dikalahkan?

Aku tak pernah menyalahkan siapa-siapa. Aku selalu berharap agar keluargaku dilimpahi kesejahteraan. Tetapi, bila ternyata mereka punya takdir berbeda, apa itu juga yang akan didoakan anak-anakku nanti? Berpuluh tahun mendatang?

Saat mereka mulai bekerja, tak pernah kubayangkan gaji pegawai akan seperti sekarang. Pada masaku dulu, semua cukup. Untuk makan kenyang tiga kali sehari, beli pakaian, sekolah anak, mengoleksi kaset musik dan buku favorit, kredit kendaraan, hingga akhirnya bisa membiayai rumah mungil ini. Ibu mereka cukup tinggal di rumah, tetapi kini anak-anakku dan pasangannya harus bersama cari nafkah hingga jauh malam; seperti halnya yang selama ini aku lakukan.

Dan bila ditanya oleh anak-anak mereka: kenapa baru pulang? Jawaban mereka pasti juga akan sama: ”Tugas menumpuk, Nak….”

Lantas, apa yang akan terjadi kepada putra-putriku puluhan tahun mendatang, pada hari Senin yang sama seperti hari ini untukku? Merenung seperti aku juga?

Lalu setelahnya tiba giliran anak-anak mereka? Cucu-cucuku?

Ini bukan jalan yang sama seperti yang kubayangkan akan mereka lalui saat mereka mulai bersekolah dulu.

Bagaimana bila puluhan tahun nanti harga dan biaya menjadi ratusan atau ribuan kali lipat dari sekarang? Dan bagaimana, jika pada masa depan, perusahaan tempat mereka bekerja sudah tak mau menghapus utang dan tagihan kesehatan saat pensiun nanti? Siapa yang akan menanggung itu semua?

Cucu-cucuku…?

Saat itu aku teringat kedua orangtuaku dulu.

Sampai di situ, aku tak kuat lagi. Kepalaku terasa sakit. Terhuyung aku kembali duduk di tepian kasur, memejamkan mata, mengurut kening yang seperti mau meletus. Untuk ketiga kalinya malam ini, timbul hasrat untuk menelepon anak-anakku. Ingin sekali kuutarakan semua yang terlintas di pikiranku barusan. Ingin sekali aku berteriak: selamatkan dirimu! Selamatkan anak-cucumu!

Tetapi, lantas aku jadi bertanya: siapa yang akan menyelamatkan aku pada sisa hidupku ini…?

Dan akhirnya, untuk kali ketiga pula, harus kuurungkan niatku….

Aku limbung. Kutarik napas-napas panjang, berusaha meredakan hantaman badai di dalam tengkorakku. Kulepaskan kedua sandal, dan berbaring menelentang, masih dengan mata terpejam erat.

Kembali terdengar alunan lembut suara Tony Williams: ”…Yet today my love has flown away…. I am without my love….”

Rupanya kaset C60-ku sudah berputar ke lagu semula. Apakah sudah selama itu…? Rasanya seperti baru sekejap saja…? Rupanya waktu telah berlalu tanpa terasa; hilang begitu saja entah ke mana….

”Coba cari kegiatan apalah begitu? Jangan diam-diam saja….” Terngiang kembali suara istriku.

Aku terdiam, rebah di pembaringan. Sendirian. Di luar semakin gelap, tetapi walau masih belum bisa membuka mata, aku belum mengantuk; belum saatnya tidur. Inilah hari pertamaku hidup benar-benar sebagai pensiunan. Apakah esok akan berbeda?