2012 in review

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2012 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

600 people reached the top of Mt. Everest in 2012. This blog got about 12,000 views in 2012. If every person who reached the top of Mt. Everest viewed this blog, it would have taken 20 years to get that many views.

Click here to see the complete report.

Advertisements

Parodi Sastra Domain Publik

Nonton film reinkarnasi terbaru Gulliver, saya jadi berpikir: seperti inikah nasib kisah klasik di jaman modern?

Sesuatu yang serupa juga menimpa Elizabeth Bennet, Elinor dan Marianne Dashwood, serta Anna Karenina.

Apakah Lemuel Gulliver harus dimake-over menjadi pria berkaos oblong dan celana tanggung yang bertingkah mirip Jack Black? Apakah untuk menarik mata pembaca mutakhir harus ada aksi, komedi, pertarungan, monster, robot, dan mayat hidup?

Produser film dan penerbit buku di barat sana sedang gemar menghidupkan kembali dan memodernisasi cerita-cerita lama. Karya yang sudah tidak terikat hak cipta.

Mungkin cocok untuk suasana resesi seperti sekarang. Tinggal memodifikasi plot yang sudah ada, tidak repot menghadapi para kreatornya. Mereka sudah tidak perlu royalti; tidak bisa ngotot lagi mempertahankan keaslian ide dan karyanya. Hemat waktu, hemat uang.

Jangan salah, mengubah karya orang lain juga tetap butuh kreatifitas tinggi. Dan menambah-kurang isi, memutar balik logika,  diberi bumbu lucu atau seru, setahu saya, itu namanya parodi.

Definisi parodi adalah karya sastra atau seni yang dengan sengaja menirukan gaya, kata penulis, atau pencipta lain dengan maksud mencari efek jenaka.

Seperti Airplane!, Naked Gun, Hot Shots. SpaceBalls. MacGruber.

Komik Peter Porker, the Spectacular Spider-Ham.

Barry Trotter. Bored of the Rings, The Sellamillion. The Va Dinci Cod.

Weird Al Yankovic.

Tuilet. Ayat Amat Cinta.

Seperti Warkop dan lagu-lagunya. Project P dan acara TVnya. Atau OVJ dengan “Smosh”nya (saya kurang paham apakah awak OVJ sadar sedang memarodikan dua entitas sekaligus: boy band asal Bandung dan grup plesetan asal Amerika yang sejak 2005 memakai nama Smosh).

Kita tidak tahu apakah Jonathan Swift, Jane Austen dan Leo Tolstoy akan terhibur melihat pilihan anak-anak jaman sekarang dalam merejuvenasi serta menikmati karya mereka.

Apakah tulisan asli mereka masih akan tetap dikenal sebagai karya sastra terbaik? Atau hanya buku dari penulis masa lalu?

Karya para sastrawan dari domain publik yang kini dibuat lebih kocak dan lebih galak.

Cerpen Pertama=Cinta Pertama

Apa karya pertama yang pernah anda kirim ke media?

Gambar ke Pak Tino Sidin yang legendaris di TVRI? Menulis cerpen untuk Anita Cemerlang? Artikel koran? Mungkin naskah buku atau komik yang dikirim ke penerbit?

Buat saya, karya pertama itu seperti cinta pertama. Tidak terlupakan.

Menurut para ilmuwan, cinta pertama yang sudah tertanam tak bisa dihapuskan dari ingatan.(http://nasional.kompas.com/read/2008/06/06/15251450/kekuatan.cinta.pertama)

Anda ingat seluruh detil dan perniknya. Dengan sejentik usaha, semua sensasi masih terasa.

Tidak percaya diri. Deg-degan. Atau malah yakin seribu persen.

Dan seperti juga semua first love di sepanjang jaman, tidak selalu ada akhir bahagia.

Karya pertama saya adalah sebuah cerita pendek.

Saya buat untuk majalah Bobo. Waktu itu kelas dua SMP; merasa masih terlalu muda mengirim ke majalah HAI.

Tentang seorang anak lelaki yang lelah melihat dan mendengar kedua orang tuanya tidak pernah akur.

Tiap hari ia berdoa dan berharap supaya situasi itu berubah. Hingga suatu malam, meringkuk di ranjang, tak bisa tidur di tengah suara bising pertengkaran ayah-ibu, tiba-tiba terdengar pintu kamar dibuka. Ia menoleh. Dilihatnya Ayah dan Ibu berdiri di muka pintu, berwajah cerah, tersenyum penuh kasih.

Ia tertegun. Apa yang terjadi? Di luar masih jelas terdengar bentak dan maki bersahutan, kenapa keduanya bisa berada di sini? Jadi suara siapa itu yang sedang berkelahi?

“Kami ayah dan ibumu yang sebenarnya,” kata Ibu, mendekat dan duduk di tepi ranjang, membelai rambut si anak lelaki.

“Yang di luar itu bukan ayah dan ibumu.”

Seperti itulah kisah yang dulu saya rancang. Saya ketik spasi ganda di kertas kuarto, dengan mesin tik tua merek Royal. Kemudian saya masukkan ke amplop coklat, dilem, dan diberi perangko secukupnya. Lalu pergi ke mobil pos keliling dekat pasar.

Pengalaman tak terlupakan. Mesin ketik Royalnya juga masih tersimpan rapi di ruang kerja saya, hingga sekarang.

Dan seperti juga kisah kasih jilid satu saya di kehidupan nyata, nasib cerpen pratama saya ternyata tidak jauh beda. Layu sebelum berkembang, ha ha ha….

Bagaimana dengan Anda?

Apa karya pertama anda? Bagaimana ceritanya, dan seperti apa endingnya? Apakah serupa dengan kisah cinta pertama anda?